Sekilas Pandang Kota Langsa

Situs Pemerintah

Link Terkait

Online Saat ini

We have 3 guests online

Polling Publik

Situs Resmi Pemerintah Kota Langsa
Polres Langsa Gelar Razia Kendaraan Komplit PDF Print E-mail
Written by Zulhari Abdullah   
Wednesday, 22 October 2014 16:39

Kasat Lantas Polres Langsa Iptu.T.Zia Fahlevie saat pelaksanaan razia kenderaan bermotor (Photo by : Ayi)

 

LANGSA--Guna mengantisipasi aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan aksi kriminalitas penjambretan, Satuan lalulintas (Satlantas) Polres Langsa, akan menggelar razia kendaraan komplit secara besar-besaran dalam wilayah hukum Polres Langsa, Selasa (21/10).

Kapolres Langsa AKBP. H. Hariadi, SH, SIK melalui Kasat Lantas Iptu. T. Zia Fahlevie kepada awak media di ruang kerjanya mengatakan, razia kendaraan komplit ini dikakukan mulai hari Rabu, 22 Oktober 2014 (hari ini-red). Dimana tujuan dari razia adalah untuk menertibkan kelengkapan kendaraan dan kelengkapan administrasi.

"Selama ini kita telah cukup melakukan sosialisasi terkait ketertiban berlalulintas dan kelengkapan kendaraan kepada masyarakat. Baik melalui kegiatan penguman berjalan dan spanduk, maupun melalui media masa, dan hari ini kita akan melakukan razia penertiban lapangan," sebut Zia.

Dijelaskannya, dalam razia besar-besaran yang akan dilakukan besok (hari ini-red), pihaknya akan memeriksa semua kelengkapan kendaraan dan pengendara secara komplit. Mulai dari SIM, STNK, Helm, lampu, plat, spion dan knalpot serta kelengkapan lainnya.

 

Lanjutnya, razia besar-besaran tersebut juga dilakukan dalam dua sistem, yaitu stationer atau sistim pos di jalan dan hunting atau sistim pindah-pindah lokasi. "Jadi kita harapkan kepada masyarakat, agar melengkapi kendaraannya, jangan sampai nanti bermasalah dalam razia," sebut zia lagi seraya menambahkan, razia ini juga bahagian dari cipta kondisi untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat

Last Updated on Wednesday, 22 October 2014 16:46
 
Tim Peneliti : Perlu Proses Panjang dalam Penelitian Sejarah Langsa PDF Print E-mail
Written by Nasruddin   
Wednesday, 22 October 2014 09:54

 

Ketua Tim Peneliti sedang mengamati Nisan dari kuburan yang diduga sebagai kuburan Raja Langsa (Photo by : Nas)

 

Ketua Tim Penelitian Sejarah Langsa, Drs.Rachmatsyah,M.Pd, melalui press realease-nya yang disampaikan kepada Wartawan Media ini, Selasa (21/10) mengatakan  penelitian yang digagas Pemerintah Kota Langsa tentang Makam Raja, telah melalui proses yang panjang yakni dimulai sejak tahun 2013, dan telah dilakukan beberapa  workshop serta satu kali persentasi tentang hasil penelusuran awal sejarah Langsa dengan mengundang pihak-pihak terkait termasuk keluarga ahli waris, tokoh masyarakat, LSM serta perwakilan masyarakat Tionghoa  "Kita sangat legowo jika ada pihak masyarakat atau yang merasa diri sebagai ahli sejarah langsa ikut memberikan kontribusi yang sehat bagi penulisan sejarah Langsa.”


Menurutnya, penelitian ini bukan kerja mudah dan ini sudah melalui proses yang panjang, jadi jika ada pihak-pihak yang mengkritik harus berpikir jernih karena ini demi kepentingan publik dan sejarah bisa membuka wawasan bagi masyarakat. Seharusnya kita bangga karena ada pihak-pihak yang melakukan pengkajian terhadap sejarah Langsa, apalagi sudah beberapa tahun sejak Kota Langsa masih bergabung dengan Aceh Timur belum ada yang melakukan penelitian seperti ini. Sehingga, penelitian sejarah yang dilakukan ini bukan mencari sensasi, tapi kami menilai bahwa pihak terkait yang dinilai terburu-buru menilai Pemko Langsa mencari sensasi.


Sementara itu, ketika ditanya terkait kegiatan Pemerintah Kota Langsa yang membangun makam raja langsa di Gampong Baroe, yang dikelola oleh Dinas Pemuda, Olahraga,Kebudayaan dan Pariwisata, Rachmatsyah, menjelaskan, dalam sebuah kolonial verslag tentang nota betreffende het landschap disebutkan bahwa pendiri pertama Kenegtoan Langsa adalah Datoe Dajanf, yang dalam silsilah keluarga ulee balang/raja negeriLlangsa disebut Datuk Banang atau Teuku Chik Banang.

Selain itu, disaat tim peneliti sejarah Langsa mengkonfirmasikan hal ini kepada pihak ahli waris khususnya Teuku Abdulatif Sani dan Ampon Wan, yang mengarahkan kami kepada sebuah makam di Gampong Baroe tersebut. Dimana, disekitar lokasi makam tersebut juga terdapat sebuah gundukan tanah yang dikisahkan sebagai tempat dikuburkannya kerbau kesayangannya.


Hal ini juga terdapat dalam kisah-kisah klasik oral tradition Langsa tentang adanya seekor kerbau kesayangan Datuk Dayang. Itulah sebabnya mengapa pihaknya kemudian memberikan perhatian khusus terhadap makam tersebut untuk diadakan penelitian lebih lanjut khususnya kepada kajian-kajian arekologis dan lain srbagainya guna memperkuat data-data tentang sejarah Langsa.

 

Last Updated on Wednesday, 22 October 2014 10:06
 
Meriah, Pagelaran Budaya Pantai Timur di Langsa PDF Print E-mail
Written by Nasruddin   
Tuesday, 21 October 2014 10:33

Warga Kota Langsa memadati pertunjukan Pagelaran Budaya Pantai Timur yang diselenggarakan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata dalam rangka memeriahkan HUT ke-13 Kota Langsa di Lapangan Merdeka setempat, Minggu (19/10) sekira pukul 21:30.

Pagelaran yang dibuka Wakil Wali Kota Langsa, Drs Marzuki Hamid, MM dihadiri 200 seniman dan senimawati dari seluruh Aceh dan Sumatera Utara.

Wakil Wali Kota Langsa, Marzuki Hamid dalam sambutannya mengatakan, kebudayaan adalah bagian yang esensial dari kehidupan manusia, karenanya kegiatan yang bersifat kreatif untuk menciptakan, menggali, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan merupakan sesuatu hal yang mutlak.

"Tanpa adanya kreasi baru, dengan tanpa meninggalkan landasan yang asli, maka kebudayaan tersebut tidak mungkin dikembangkan. Kemudian, di sisi lain nilai-nilai kebudayaan di Indonesia harus terus dibina dan dikembanhkan guna memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan nasional serta memperkokoh jiwa kesatuan bernegara," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Marzuki, berbagai karya budaya tradisional harus tetap digali, dipelihara, dibakukan dan dikembangkan dengan baik. Apalagi, di daerah Aceh sangat banyak memiliki kekayaan di bidang budaya sebagaimana telah terbukti dari kejayaan sejarah di masa lampau.

Sementara Kadisporabudpar, Drs Syafrizal dalam laporannya mengatakan, melalui pergelaran budaya pantai timur ini kita mencoba untuk menggairahkan kegiatan seni dan budaya yang ada di Kota Langsa, sekaligus untuk memberikan hiburan bagi masyarakat dalam rangka memeriahkan HUT ke-13 Kota Langsa.

Di mana pagelaran ini diikuti 10 sanggar dari tujuh daerah di kab/kota Aceh dan Sumut yakni, Sanggar Pocut Meurah Inseun (Lhokseumawe), Sanggar Meuligee Lindung Bulan (Aceh Tamiang), Sanggar Putroe Naila (Sabang), Sanggar Banda Beutari (Kota Langsa), Sanggar Pesona (PTPN I Langsa), Sanggar Idaman (Kota Binjai-Sumut), Sanggar Meuligoe Timur (Aceh Timur), Sanggar Cut Meutia (Aceh Utara), Sanggar Impragas (Kota Langsa), Grup Seudati Aceh Lon Sayang (Kota Langsa) dan Sanggar Sidom (Kota Langsa).

"Ke depan, kegiatan gelar budaya pantai timur ini direncanakan akan dijadikan kalender tetap yang akan diadakan setiap tahunnya dalam memperingati HUT Kota Langsa," tandasnya.

 
Meriah, Pagelaran Budaya Pantai Timur di Langsa PDF Print E-mail
Written by Nasruddin   
Tuesday, 21 October 2014 10:28

Warga Kota Langsa memadati pertunjukan Pagelaran Budaya Pantai Timur yang diselenggarakan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata dalam rangka memeriahkan HUT ke-13 Kota Langsa di Lapangan Merdeka setempat, Minggu (19/10) sekira pukul 21:30.

Pagelaran yang dibuka Wakil Wali Kota Langsa, Drs Marzuki Hamid, MM dihadiri 200 seniman dan senimawati dari seluruh Aceh dan Sumatera Utara.

Wakil Wali Kota Langsa, Marzuki Hamid dalam sambutannya mengatakan, kebudayaan adalah bagian yang esensial dari kehidupan manusia, karenanya kegiatan yang bersifat kreatif untuk menciptakan, menggali, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan merupakan sesuatu hal yang mutlak.

"Tanpa adanya kreasi baru, dengan tanpa meninggalkan landasan yang asli, maka kebudayaan tersebut tidak mungkin dikembangkan. Kemudian, di sisi lain nilai-nilai kebudayaan di Indonesia harus terus dibina dan dikembanhkan guna memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan nasional serta memperkokoh jiwa kesatuan bernegara," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Marzuki, berbagai karya budaya tradisional harus tetap digali, dipelihara, dibakukan dan dikembangkan dengan baik. Apalagi, di daerah Aceh sangat banyak memiliki kekayaan di bidang budaya sebagaimana telah terbukti dari kejayaan sejarah di masa lampau.

Sementara Kadisporabudpar, Drs Syafrizal dalam laporannya mengatakan, melalui pergelaran budaya pantai timur ini kita mencoba untuk menggairahkan kegiatan seni dan budaya yang ada di Kota Langsa, sekaligus untuk memberikan hiburan bagi masyarakat dalam rangka memeriahkan HUT ke-13 Kota Langsa.

Di mana pagelaran ini diikuti 10 sanggar dari tujuh daerah di kab/kota Aceh dan Sumut yakni, Sanggar Pocut Meurah Inseun (Lhokseumawe), Sanggar Meuligee Lindung Bulan (Aceh Tamiang), Sanggar Putroe Naila (Sabang), Sanggar Banda Beutari (Kota Langsa), Sanggar Pesona (PTPN I Langsa), Sanggar Idaman (Kota Binjai-Sumut), Sanggar Meuligoe Timur (Aceh Timur), Sanggar Cut Meutia (Aceh Utara), Sanggar Impragas (Kota Langsa), Grup Seudati Aceh Lon Sayang (Kota Langsa) dan Sanggar Sidom (Kota Langsa).

"Ke depan, kegiatan gelar budaya pantai timur ini direncanakan akan dijadikan kalender tetap yang akan diadakan setiap tahunnya dalam memperingati HUT Kota Langsa," tandasnya.

 
Meriah, Pagelaran Budaya Pantai Timur di Langsa PDF Print E-mail
Written by Nasruddin   
Tuesday, 21 October 2014 10:27

Warga Kota Langsa memadati pertunjukan Pagelaran Budaya Pantai Timur yang diselenggarakan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata dalam rangka memeriahkan HUT ke-13 Kota Langsa di Lapangan Merdeka setempat, Minggu (19/10) sekira pukul 21:30.

Pagelaran yang dibuka Wakil Wali Kota Langsa, Drs Marzuki Hamid, MM dihadiri 200 seniman dan senimawati dari seluruh Aceh dan Sumatera Utara.

Wakil Wali Kota Langsa, Marzuki Hamid dalam sambutannya mengatakan, kebudayaan adalah bagian yang esensial dari kehidupan manusia, karenanya kegiatan yang bersifat kreatif untuk menciptakan, menggali, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan merupakan sesuatu hal yang mutlak.

"Tanpa adanya kreasi baru, dengan tanpa meninggalkan landasan yang asli, maka kebudayaan tersebut tidak mungkin dikembangkan. Kemudian, di sisi lain nilai-nilai kebudayaan di Indonesia harus terus dibina dan dikembanhkan guna memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan nasional serta memperkokoh jiwa kesatuan bernegara," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Marzuki, berbagai karya budaya tradisional harus tetap digali, dipelihara, dibakukan dan dikembangkan dengan baik. Apalagi, di daerah Aceh sangat banyak memiliki kekayaan di bidang budaya sebagaimana telah terbukti dari kejayaan sejarah di masa lampau.

Sementara Kadisporabudpar, Drs Syafrizal dalam laporannya mengatakan, melalui pergelaran budaya pantai timur ini kita mencoba untuk menggairahkan kegiatan seni dan budaya yang ada di Kota Langsa, sekaligus untuk memberikan hiburan bagi masyarakat dalam rangka memeriahkan HUT ke-13 Kota Langsa.

Di mana pagelaran ini diikuti 10 sanggar dari tujuh daerah di kab/kota Aceh dan Sumut yakni, Sanggar Pocut Meurah Inseun (Lhokseumawe), Sanggar Meuligee Lindung Bulan (Aceh Tamiang), Sanggar Putroe Naila (Sabang), Sanggar Banda Beutari (Kota Langsa), Sanggar Pesona (PTPN I Langsa), Sanggar Idaman (Kota Binjai-Sumut), Sanggar Meuligoe Timur (Aceh Timur), Sanggar Cut Meutia (Aceh Utara), Sanggar Impragas (Kota Langsa), Grup Seudati Aceh Lon Sayang (Kota Langsa) dan Sanggar Sidom (Kota Langsa).

"Ke depan, kegiatan gelar budaya pantai timur ini direncanakan akan dijadikan kalender tetap yang akan diadakan setiap tahunnya dalam memperingati HUT Kota Langsa," tandasnya.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 81