Sekilas Pandang Kota Langsa

Situs Pemerintah

Link Terkait

Online Saat ini

We have 4 guests online

Polling Publik

Situs Resmi Pemerintah Kota Langsa
Hari Anak Nasional 2014 Diperingati Di Langsa PDF Print E-mail
Written by Zulhari Abdullah   
Wednesday, 27 August 2014 07:51

LANGSA –  Sekda Kota Langsa, M. Syahril, mewakili Walikota Langsa, bertindak sebagai Inspektur Upacara dalam memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2014, sekaligus membacakan sambutan Walikota Langsa.  Selasa (26/8) pagi, dihalaman Pendopo Kota Langsa.

Walikota Langsa dalam sambutannya yang dibacakan M. Syahril, mengatakan, semangat  nasionalisme dan jiwa patrotisme pada anak-anak cenderung menurun, nilai-nilai luhur agama, sosial, budaya bangsa seperti pola hidup gotong royong, toleransi, kebersamaan, bangga pada ke bhinekaan dan keragaman suku dan bangsa indonesia berubah menjadi pola hidup individual, primordial,konsumtif dan anarkis yang mengkhawatirkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selanjutnya, fenomona sosial yang serius dan sangat mengkhawatirkan adalah bahwa anak-anak remaja mulai menjadi sasaran pengkaderan kelompok-kelompok radikal yang tidak sejalan dengan NKRI. Bahkan dalam situasi yang sangat ekstrim dan anak-anak tidak terlindungi, maka tidak tertutup kemungkinan anak-anak akan menjadi sasaran kelompok tersebut.

Pelaksanaan partisipasi anak bertujuan menjamin agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik dari segi fisik, mentak maupun sosial serta memperoleh perlindungan. Sehingga, pada saatnya nanti anak akan mampu menjawab tabtangan zamannya juga termasuk pengembangan potensi dan kreatifitas anak bersangkutan baik secara pemikiran maupun didalam kegiatan.

Semua itu dibangun atas dasar kesadaran bahwa pihak yang paling mnegetahui masalah, kebutuhan dan keinginan anak adalah anak itu sendiri. Mari kita ciptakan ruang untuk anak-anak kita menyalurkan kreasi dan aspirasi mereka, biarkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan minat mereka, mudah-mudahan kelak mereka menjadi generasi yang dapat membanggakan agamanya, orang tunaya dan negara tercinta ini.

 

Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa. Sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak-hak sipil. Namun, pada kenyataannya, anak sering menjadi pihak yang tidak diperhitungkan suara dan kepentingannya, sehingga anak menjadi kelompok yang rentan terhadap perdagangan orang, kekerasan, eksploitasi, pelecehan seksual serta bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Demikian M.Syahril.

 
Atasi Defisit Listrik, PLN Akan Bangun PLTG Di Langsa PDF Print E-mail
Written by Bahtiar.MA   
Sunday, 24 August 2014 19:23

LANGSA--Upaya mengatasi defisit arus listrik yang sedang terjadi di Aceh selama ini, PT. PLN pusat bekerjasama dengan Pemerintah Kota Langsa, akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTG/PLTU), di kawasan industri Pelabuhan Kuala Langsa.

"PLTG yang direncanakan dibangun di kawasan industri Pelabuhan Kuala Langsa ini, untuk kapasitas 100 MW. Dengan adanya PLTG ini nantinya, maka masalah defisit arus listrik selama ini dapat teratasi, khususnya Kota Langsa dan beberapa kota lainnya di Aceh," demikian sebut Projec Manager Operasional Paperment Improfment (PMOPI) Jakarta, Wahyu Sulaiman, saat temu ramah dengan Walikota Langsa dan Muspida Plus di Rumah Makan Renggali Langsa kemarin.

Dijelaskannya, bahwa rencana pembangunan PLTG ini berawal dari usulan Walikota Langsa yang siap membantu menyediakan lahan di kawasan industri Kuala Langsa untuk pembangunan PLTG. Dimana usulan tersebut, setelah dibicarakan dengan Direktur Utama PT. PLN di Jakarta, ternyata mendapat respon positif dengan persetujuan dilakukan pembangunan PLTG ini di Kota Langsa.

Lanjutnya, usulan pembangunan PLTG dimaksud di Kota Langsa, menyusul bermasalahnya pembangunan PLTG di Belawan, Medan, Sumatera Utara, karena tidak memiliki lahan. Sehingga, agar mesin pembangkit PLTG yang telah ada di Medan tidak mubazir, maka akan dialihkan ke Kota Langsa, sesuai harapan Walikota Langsa.

"Alasan persetujuan Dirut mengalihkan pembangunan PLTG dari Belawan ke Langsa, selain masalah ketersediaan lahan, juga karena selama ini Aceh secara umum mengalami defisit arus. Sehingga dengan adanya PLTG berkapasitas 100 MW ini, nantinya diharapkan, masalah defisit listrik dapat teratasi dan masyarakat Aceh, khususnya Langsa bisa menikmati listrik secara maksimal," sebut Wahyu lagi.

Ditambahkannya, walaupun pembangunan PLTG ini telah disetujui, namun untuk pelaksanaannya, masih membutuhkan kesiapan administrasi terkait status lahan. Juga menunggu hasil survey lahan yang akan dilakukan pihaknya untuk selanjutnya dilaporkan kepada Dirut PT. PLN sebagai pertimbangan.

Sementara itu, Walikota Langsa, Tgk. Usman Adullah, SE pada kesempatan yang sama mengatakan, bahwa keinginan Pemko Langsa untuk membangun PLTG bersama PLN ini, selain kebutuhan energi listrik yang tinggi, juga untuk menyerap tenaga kerja baru bagi masyarakat Langsa.

 

"Sementara terkait status lahan, nanti akan kita bicarakan lebih lanjut, karena lahan ini milik negara, maka akan ada beberapa ketentuan yang harus dilakukan sesuai aturannya. Namun demikian kita berharap pembangunan PLTG ini dapat segera terwujud dan masyarakat Langsa dan Aceh khususnya dapat menikmati energi dari pembangkit ini," demikian Usman Abudullah.

 
Bubarkan Keyboard, Pengunjung Bersitegang dengan WH PDF Print E-mail
Written by Bahtiar.MA   
Sunday, 24 August 2014 19:19

LANGSA--Petugas Wilayatul Hisbah (WH) Kota Langsa, bersitegang dengan sejumlah pengunjung keyboard saat melakukan pembubaran hiburan keyboard yang digelar di depan kantor Keuchik, Gampong Pondok Pabrik, Langsa Lama, pada Sabtu (23/8) malam sekira pukul 21.00 Wib, Minggu (24/8).

Kepala Dinas Syariat Islam Langsa, Drs. H. Ibrahim Latif, MM, kepada mengatakan, ketegangan antara pengunjung dan petugas WH itu berawal dari laporan warga yang di terima WH pada Sabtu (23/8) malam sekira pukul 19.30 Wib. Dimana saat itu, warga melaporkan bahwa ada pertunjukan hiburan keyboard di depan kantor Keuchik Gampong Pondok Pabrik, dan atas laporan dimaksud petugas langsung menuju TKP.

"Tadi malam, saya langsung menjumpai Keuchik Pondok Pabrik, untuk membicarakan masalah pembubaran keyboard ini, tapi sayangnya respon pak Keuchik kurang bersahabat, dia membantah ajakan saya untuk membubarkan keyboard dengan mengatakan tetap akan menggelar keyboard karena itu permintaan pemuda, alasannya," sebut Ibrahim.

Lanjutnya, karena tidak ada reapon pak Keuchik dan keyboard tetap dilaksanakan, maka petugas WH berjumlah dua belas orang dipimpin Danton Tgk. Irmansyah dan di backup oleh lima personil Polisi Polres Langsa mengadakan negoisasi dengan pemuda-pemuda setempat dan pengunjung. Namun negosiasi itu gagal, dan permainan keyboard terus berlangsung, sehingga WH naik terpaksa panggung untuk membubarkan keyboard hingga terjadi ketegangan dan aksi saling dorong di atas panggung.

"Namun berkat kesiagaan dan kesiapan anggota Polisi Polres Langsa, akhirnya situasi dapat dikendalikan, dan sekira pukul 23.00 Wib, hiburan keyboard dapat dibubarkan tanpa timbul insiden yang fatal," sebut Ibrahim lagi seraya menambahkan, terkait pembubaran keyboard tersebut pihaknya telah melaporkan kasus tersebut kepada Walikota Langsa dan Kapolres Langsa.

 

Ditambahkannya, atas insiden ketegangan dengan pemuda dan respon Keuchik yang kurang mendukung upaya penegakan syariat ini, dirinya mengharapkan, Walikota Langsa dan Kapolres dapat menindak lanjuti kasus tersebut. Agar para Keuchik dan perangkat gampong ke depan dapat pro aktif dan mendukung pelaksanaan Syariat Islam dan dapat mengamankan Maklumat Muspida tentang pelaksanaan Syariat Islam di Kota Langsa.

 
Pelanggar Syariat Di Aceh Didominasi Pelajar dan Mahasiswa PDF Print E-mail
Written by Bahtiar.MA   
Sunday, 24 August 2014 11:13

LANGSA--Tindakan pelanggaran syariat Islam di Aceh secara global selama ini, lebih di dominasi oleh kaum pelajar dan mahasiswa. Hal itu dikarenakan materi pendidikan keagamaan yang diberikan di sekolah tidak membekas dalam pribadi pelajar itu sendiri, Sabtu (23/8).

"Berdasarkan hasil pengamatan kasus pelanggaran syariat di Aceh secara umum dan penindakan pelanggaran di Kota Langsa, selama ini pelanggaran syariat islam lebih didominasi oleh para pelajar dan mahasiswa. Seperti kasus khalwat mesum dan pelanggaran syariat lainnya, hal ini dkarenakan pendidikan di sekolah selama ini tidak membekas pada diri pelajar," demikian antara lain disampaikan Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa, Drs. H. Ibrahim Latif, MM pada acara Rapat Dengar Pendapat Umum (RPDU) dengan DPR Aceh tentang pembasan Rancangan Qanun Hukum Jinayat dan Rancangan Qanun Pokok-Pokok Syariat Islam di aula Hotel Lido Graha Kota Lhokseumawe kemarin.

Ibrahim mengatakan, dalam RPDU yang berlangsung selama dua hari, dari jumat (22/8) sampai dengan Sabtu (23/8) kemarin, yang ikut dihadiri Bupati/ Walikota, Ketua DPRK, Kapolres, Ketua MPU, Kadis Syariat Islam dan Kasat PP/ WH se kawasan Timur dan Tengah Aceh itu, dirinya selaku salah satu pembicara mengatakan, pendidikan yang diterima di sekolah selama ini oleh para pelajar hanya berlangsung singkat, yaitu enam jam per hari, dan pelajaran agama hanya berlangsung dua kali 45 menit per minggunya.

"Inilah pendidikan yang tidak membekas dan tidak Islami, anak-anak kita sekarang hanya belajar di sekolah, pulang dari sekolah tidak belajar agama lagi baik di rumah maupun di dayah. Di sekolah tidak diajarkan pendidikan agama yang cukup, maka cendrung mengikuti ajakan setan, melakukan perbuatan khalwat, mesum, bahkan dengan gampang mereka melakukan zina," tegas Ibrahim Latif.

Untuk itu, dalam rapat tersebut Ibrahim Latif mengharapkan, baik rancangan qanun jinayat dan rancangan qanun pokok-pokok syariat Islam supaya segera disahkan menjadi qanun Aceh. Dan terkait dengan Tarbiyah (pendidikan) di Aceh, supaya dilaksanakan pendidikan yang bersyariat dan bermutu, dimana pendidikan di Aceh harus Islami, sebagai ciri khas Aceh, daerah yang melaksanakan syariat Islam secara kaffah.

Dijelaskannya, agar pendidikan di Aceh dapat melahirkan anak-anak Aceh yang beriman tangguh, bertaqwa, cerdas, dan berakhlaq mulia. Maka sistem pendidikan perlu dipadukan antara pendidikan Nasioanal dan pendidikan dayah.

Anak-anak di Sekolah harus dibekali dengan Ketauhidan, pendidikan Aqidah, dan pendidikan Akhlaq yang cukup. Juga jam pelajaran harus ditambah, antara pendidikan Kurikulum Nasional dan  kurikulum yang Islami atau kurikulum dayah, supaya moralitas dan nilai-nilai keagamaan pada pelajar dan mahasiswa dapat lebih membekas.

 

Lanjutnya, pemerintah juga berkewajiban menyediakan anggaran yang cukup. "Bila jam belajar ditambah berlangsung sampai sore, anak-anak makan siang di Sekolah, shalat dzuhur di sekolah, habis shalat dzuhur dilanjutkan dengan pelajaran yang Islami (Kurikulum bersyariat-Islami) sampai shalat Ashar dan selesai Ashar baru boleh pulang," demikian Ibrahim.

 
PNPM-MP Langsa, Buka Paket A,B,C PDF Print E-mail
Written by Bahtiar.MA   
Sunday, 24 August 2014 11:10

LANGSA—Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP) Kota Langsa, secara resmi membuka kegiatan belajar mengajar, Kejar Paket A, B dan C, bagi anak-anak yang putus sekolah asal Gampong Birem Puntong, Kecamatan Langsa Barat, Jumat (22/8).

Koordinator PNPM-MP Langsa, Maulina Santi, ST mengatakan, kegiatan kejar paket tersebut dilaksanakan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Salsabila Gampong Sungai Pauh, Langsa Barat.

Dijelaskannya, kegiatan kejar paket dimaksud diselenggarakan oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmue Beurata,Gampong Birem Puntong. Adapun sumber pendanaan kegiatan ini berasal dari Alokasi Dana Kegiatan Sosial (ADKS) PNPM Selaras, tahun anggaran 2013.

“Dalam hal ini, PNPM bersama BKM Makmue Beurata bekerjasama menyelenggarakan program kejar paket A, B dan C, untuk mengakomodir kebutuhan pendidikan bagi masyarakat miskin putus sekolah melalui program PNPM Selaras,” sebut Maulina.

Maulina juga mengharapkan, agar peserta dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik dan memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu demi masa depan yang lebih baik. Supaya kedepannya kota Langsa akan terbebas dari buta huruf dan anak-anak putus sekolah.

Ditambahkannya, selain kegiatan kejar paket, PNPM juga akan selalu mendukung program-program yang menjadi unggulan pemerintah. Juga akan menciptakan program-program unggulan lainnya untuk kepentingan masyarakat di kota Langsa, yang tentunya harus didukung oleh semua komponen masyarakat di kota Langsa itu sendiri.

Sementara itu, Ketua Yayasan Salsabila Gampong Sungai Pauh, Surbaini, mengatakan, dirinya menyambut baik program kejar paket A, B dan C yang dilaksanakan PNPM tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan upaya pengentasan bagi masyarakat putus sekolah untuk dapat melanjutkan pendidikannya.

“Saya menyambut baik pelaksanaan kejar paket di PKBM Salsabila yang berdiri sejak tahun 2000 ini, walaupun memiliki tempat kegiatan belajar sangat sederhana, namun alumni dari PKBM Salsabila banyak yang sudah bekerja di lembaga pemerintahan/PNS dan perusahaan,” sebut Sarbaini.

 

Pada kesempatan itu, Surbaini juga mengaharapkan kepada pemerintah, untuk dapat memberikan fasilitas tempat belajar yang lebih baik bagi PKBM Salsabila. Agar proses belajar mengajar di PKBM ini dapat berjalan dengan baik.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 76